<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kelulusan VS UN</title>
	<atom:link href="http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/</link>
	<description>Buatlah Sesuatu Yang Berbeda</description>
	<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 23:43:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: Loenpia dot net &#187; Kelulusan Merupakan Awal Segalanya</title>
		<link>http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/#comment-49</link>
		<dc:creator>Loenpia dot net &#187; Kelulusan Merupakan Awal Segalanya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jun 2006 02:05:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/#comment-49</guid>
		<description>[...] Namun menurut Kepala Dinas P&#38;K Jateng, Drs Rodjikin MM mengatakan bahwa jumlah siswa SMU yang tidak lulus mengalami penurunan dibandingkan tahun kemaren. Sungguh ironis dimana ternyata beberapa dari mereka yang tidak lulus bisa dikatakan tidak layak untuk tidak lulus. Maksudnya, mereka yang tidak lulus itu ternyata pada saat sekolah sering mendapatkan prestasi dibidang akademik. Seperti yang saya tuliskan disini dan disini, mereka itu gagal lulus dikarenakan kebijakan pemerintah yang kurang dapat diterima. (oleh yang tidak lulus tentunya) Dikatakan begitu karena masa belajar siswa yang 3 tahun itu pupus hanya karena ujian yang cuma 3 hari itu. Trus standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah. Kenapa bukan guru (sekolah) yang menetapkan? seperti di bangku kuliah yang menetapkan kelulusan adalah tiap-tiap fakultas. Lagipula yang selama ini mendampingi siswa selama 3 tahun itu adalah guru. Kenapa bukan guru yang menyatakan bahwa siswa ini layak lulus atau tidak. Makanya Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi. Menginginkan agar pemerintah mengembalikan fungsi guru sebagai penentu kelulusan siswa. Seperti yang dilansir oleh Detik.com [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Namun menurut Kepala Dinas P&#38;K Jateng, Drs Rodjikin MM mengatakan bahwa jumlah siswa SMU yang tidak lulus mengalami penurunan dibandingkan tahun kemaren. Sungguh ironis dimana ternyata beberapa dari mereka yang tidak lulus bisa dikatakan tidak layak untuk tidak lulus. Maksudnya, mereka yang tidak lulus itu ternyata pada saat sekolah sering mendapatkan prestasi dibidang akademik. Seperti yang saya tuliskan disini dan disini, mereka itu gagal lulus dikarenakan kebijakan pemerintah yang kurang dapat diterima. (oleh yang tidak lulus tentunya) Dikatakan begitu karena masa belajar siswa yang 3 tahun itu pupus hanya karena ujian yang cuma 3 hari itu. Trus standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah. Kenapa bukan guru (sekolah) yang menetapkan? seperti di bangku kuliah yang menetapkan kelulusan adalah tiap-tiap fakultas. Lagipula yang selama ini mendampingi siswa selama 3 tahun itu adalah guru. Kenapa bukan guru yang menyatakan bahwa siswa ini layak lulus atau tidak. Makanya Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi. Menginginkan agar pemerintah mengembalikan fungsi guru sebagai penentu kelulusan siswa. Seperti yang dilansir oleh Detik.com [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yogie a.k.a Ple-Q Website &#187; Blog Archive &#187; Kebijakan UN VS Kelulusan</title>
		<link>http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/#comment-29</link>
		<dc:creator>Yogie a.k.a Ple-Q Website &#187; Blog Archive &#187; Kebijakan UN VS Kelulusan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jun 2006 05:44:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ple-q.com/2006/06/20/kelulusan-vs-un/#comment-29</guid>
		<description>[...] Melanjutkan postingan sebelumnya tentang tragedi UN. Sampai sekarang ternyata perkembangannya makin memprihatinkan. Tadinya aku kira yang gagal menempuh UN cuma dikit dan anak itu benar-benar layak untuk tidak lulus. Ternyata tidak! Ternyata masih banyak lagi anak yang nggak lulus UN, dan lebih menyakitkan lagi, mereka itu orang pintar! [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Melanjutkan postingan sebelumnya tentang tragedi UN. Sampai sekarang ternyata perkembangannya makin memprihatinkan. Tadinya aku kira yang gagal menempuh UN cuma dikit dan anak itu benar-benar layak untuk tidak lulus. Ternyata tidak! Ternyata masih banyak lagi anak yang nggak lulus UN, dan lebih menyakitkan lagi, mereka itu orang pintar! [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
