Lomba Blog 2006's archives

Maaf Yang Berkualitas

by Ple-Q | November 12th, 2006 

Pernah nggak, kita dimintai maaf oleh seseorang yang telah berbuat salah kepada kita? Pasti pernah dong.. nah, bagaimana cara orang itu meminta maaf kepada kita? Apakah dengan ketulusan dan kerendahan hati? Ataukah hanya sekedar mengucapkan “maafin aku ya” saja? Tentunya bermacam-macam cara seseorang untuk meminta maaf, dan bukan tidak mungkin ada “metode” lain yang lebih aneh atau “sensasional”.

Pasti pernah lihat dong, di beberapa surat kabar ada yang memuat iklan keluarga yang berisi permintaan maaf kepada seseorang yang (mungkin) telah dicemarkan nama baiknya. Di surat kabar itu kalimat permintaan maaf ditulis dengan huruf yang cukup besar sehingga menghabiskan beberapa tempat di halaman surat kabar itu. Dan tentunya itu menghabiskan dana yang tidak sedikit unruk menyewa tempat itu.

Tapi kalau direnungkan apakah itu sudah cukup berkualitas? Apakah cara permintaan maaf itu efektif kepada keluarga “korban”? dan apakah dari sisi peminta maaf tidak akan ada perasaan dendam dari keluarga besarnya? Bukankah ini malah menambah masalah baru? Kalau begitu, apa gunanya minta maaf yang ditulis di surat kabar itu? Udah ngabis-ngabisin tempat dan biaya malah nggak ada gunanya dan malah menambah masalah baru.

Lalu bagaimana cara meminta maaf yang berkualitas itu? Menurut saya persoalan meminta maaf bisa disamakan dengan bertaubat kepada TUHAN. Dimana dalam agama Islam disebutkan, bila seorang umat Muslim akan bertobat, maka dia harus benar-benar meminta maaf kepada Allah SWT dengan seluruh kerendahan hati, kemudian menanamkan tekad pada diri dan hati untuk berusaha tidak mengulangi perbuatannya dimasa mendatang. Nah, metode permintaan maafnya bermacam-macam. Ada yang menyantuni fakir miskin dan anak yatim, berdakwah, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih banyak berbuat amal, berdoa , dan lain sebagainya.

Nah, sekarang bagaimana implementasi dengan kehidupan normal? Cukup banyak metode yang bisa diterapkan. Tapi sebenarnya yang paling efektif adalah mengganti kerugian yang ditimbulkan dengan apapun yang nilainya sama dengan yang dirugikan. Bagaimana bila tidak bisa ditaksir kerugiannya? misalnya nama baik yang dicemarkan. Nah, itu bisa dengan membuat klarifikasi yang menyebutkan bahwa nama baik itu telah dipulihkan atas nama pengadilan. Jadi nggak perlu woro-woro lewat Surat Kabar. Kita yang membacanya malah ilfil ngeliatnya.

Orang Yang Paling Mudah Memberikan Maaf

by Ple-Q | November 10th, 2006 

Siapakah orang yang paling mudah memberikan maaf? yang akan memberikan maaf meskipun sebenarnya kita sudah sangat menyakiti perasaan dia dan menyakiti hatinya. Trus dia akan selalu memberikan maaf meskipun kesalahan itu suatu saat akan kita ulangi lagi dimasa mendatang. Hebatnya lagi, dia akan memberikan maaf kepada kita semudah dia membalikkan telapak tangannya. Dan yang bikin menyentuh hati lagi, dia akan memberikan maaf meskipun saat itu kita belum minta maaf kepadanya.

Siapa orang yang sangat sabar, bijak, dan penuh perhatian itu? Orang itu sangat dekat dengan kita, karena dia adalah kedua Orang Tua kita. Ayah dan Ibu, Papah dan Mamah, Bapak dan Ibu, dan masih banyak lagi sebutan bagi mereka. Mereka adalah orang yang laing sabar dan mengerti dalam menghadapi segala kelakuan kita (sebagai anaknya), baik kelakuan yang membanggakan ataupun kelakuan yang bisa membuat mereka mengelus dada.

Sungguh mulia dan tinggi derajat Orang Tua, makanya jangan sekali-kali menyakiti hati Orang Tua, meskipun sebenarnya tidak akan ada Orang Tua yang tega membenci anaknya selain di Sinetron Indonesia. Mereka adalah contoh yang sangat dekat dan contoh yang sangat bagus dalam hal memaafkan dan mengampuni kesalahan anak-anaknya.

Ada tagline dari sebuah cerita yang cukup menyentuh hati :

“Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kamu meminta maaf Nak..”

Hiks.. hiks..
Mumpung orang tua kita masih ada, cintailah mereka dan jangan sampai buat mereka merasa sedih atas segala tingkah laku kita yang aneh-aneh. Buat mereka bangga, jadilah anak yang sholeh, karena anak yang sholeh adalah bekal orang tua ketika beliau dipanggil Yang Maha Kuasa.

Susahnya Memberi Maaf..

by Ple-Q | November 1st, 2006 

Pernah nggak kamu dimintai maaf oleh seseorang yang telah sukses menyakiti kamu. Baik menyakiti hati atau tubuh kamu? Dia datang dengan ikhlas dan tulus untuk meminta maaf atas semua perlakukan dia kepadamu. Bagaimana reaksimu saat itu? Apakah langsung memberikan maaf seusuai yang dia minta? Apa malah mengusirnya pergi?

Itu adalah suatu kondisi yang sangat ironis, dimana kita pasti masih menyimpan dendam dan perasaan jengkel kepada orang itu, trus tiba-tiba dia dateng dengan meminta maaf atas semua kesalahannya. Enak banget!! Hehehehe… itu pasti yang bakalan ada di sebagian besar pikiran kalian. Itu nggak salah, dan itu adalah wajar, dan kamu berhak.

Sekarang begini, seperti yang ada di postingan sebelumnya. Untuk meminta maaf itu membutuhkan keberanian yang sangat besar dan kemauan yang tinggi. Nah nggak ada salahnya kalau kita untuk menghargai keberanian itu dengan juga memberikan maaf. Bagaimana dengan hati? apa nggak dipikirin? Iya, sakit hati memang lebih sakit daripada sakit gigi, tapi ya apa mau terus-terusan sakit hati? Semua sakit nggak akan sembuh kalau dari dalam dirinya tidak ada keinginan untuk sembuh.

Percayalah, dengan memberi maaf maka kita sudah akan mendapatkan satu teman yang akan selalu menjaga kita. Selain itu tandanya kita sudah semakin dewasa, tidak  kekanak-kanakan yang selalu ingin menang sendiri (lagian dia khan udah minta maaf), dan pasti dia tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Masalah nanti dia mau mengulangi itu urusan nanti, karena kalau kesalahan itu diulangi maka kita berhak untuk tidak memberikan maaf untuk selama-lamanya (hohohoho…)

Kehebatan Dari Kata Maaf

by Ple-Q | November 1st, 2006 

Maaf, kata yang terdiri dari 4 huruf ini adalah kata yang sangat manjur apabila kita sedang tersandung masalah. Kata inilah yang sebenarnya yang bisa menghapus semua dendam, permusuhan, kesalahpahaman, kerenggangan hubungan, rasa tidak percaya, dan apapun yang berhubungan dengan masalah hati. Apalagi apabila kata itu diucapkan dengan perasaan tulus ikhlas tanpa berharap apapun.

Sayangnya masih ada juga beberapa pihak yang masih enggan untuk mengucapkan kata simpel ini, bahkan cenderung untuk mengucapkan banyak kata dan kalimat yang nggak perlu, dan akhirnya malah akan memperkeruh suasana. Apa memang lebih suka dengan kata dan kalimat yang banyak serta mendayu-dayu dibandingkan dengan kata maaf yang diucapkan dengan kesungguhan?

Meminta maaf adalah suatu perbuatan yang sungguh sangat membutuhkan keberanian dan kemauan yang tinggi. Meskipun kata maaf hanya terdiri dari 4 huruf saja, namun dalam pengucapannya tidak semudah dalam penulisannya. Rasanya mulai dari sekarang harus belajar mengucapkan kata “MAAF”, tidak hanya menuliskannya saja.

Satu lagi… Saat kita sudah berani untuk mengucapkan kata “MAAF”, jangan terlalu berharap untuk langsung diberikan “MAAF” oleh yang diminta. Karena kita berada dalam posisi peminta, jadi terserah yang diminta, apakah dia mau memberikan maafnya kepada kita apa enggak. Dan jangan marah apabila kita memang belum saatnya diberikan maaf.

Maaf, Sedang Dalam Perbaikan…

by Ple-Q | October 18th, 2006 

Seringkali kita melihat tulisan itu di beberapa tempat-tempat umum dan strategis. Misal kita lagi ke mall trus mau ke WC, eehh ternyata toiletnya lagi diperbaiki. Pas lagi butuh duit kita segera lari ke ATM terdekat.. tapiiii ATM-nya lagi rusak. Trus pas lagi mau makan ternyata restorannya dah tutup.

Kadangkala permintaan maaf tidak diucapkan secara langsung oleh yang bersangkutan. Tapi cukup dengan tanda dan tulisan, bahkan ada yang disampaikan lewat rekaman. Nah.. tetapi kenapa kita sering jengkel dengan semua permintaan maaf itu? Padahal mereka nggak melakukan kesalahan secara langsung kepada kita. Bahkan kenal ama kita pun enggak, begitu pula sebaliknya.. kita nggak kenal sama sekali dengan yang nulis pengumuman itu. Tapi kenapa ya, rasa sebel dan jengkel pas ada. Apalagi bila situasi dan kondisi kita seperti yang aku ceritain diatas.. (kebelet, butuh duit, dan kelaperan).

Cobalah, mumpung sekarang lagi bulan puasa.. coba untuk tidak gampang merasa jengkel, apalagi gara-gara masalah sepele yang mungkin “hanya” menggangu kenyamanan kita saja. Tidak sampai menyakiti kita. Ada kalanya kita harus mengalah dan memberikan maaf atas segala ketidaknyamanan yang terjadi di sekeliling kita. Ingat, kita adalah makhluk sosial yang tidak pernah sendirian. Mengambil tagline di buku Area X, “Kita Tidak Pernah Benar-Benar Sendirian”.

Meta

Advertisment Slot

ad3 ad4

Want to Advertise Here

Partner links