Membeli Emas di Pegadaian Syariah

Sebelum membaca lebih lanjut, postingan ini bukan mengenai cara menabung emas ataupun berkebun emas yang lagi marak belakangan ini. Ini pengalaman saya untuk memulai membeli emas batangan dengan biaya terjangkau.

Emas sudah digunakan sebagai barang investasi semenjak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Nilainya yang kebal akan inflasi dan cenderung naik setiap tahunnya membuat orang-orang yang menyukai investasi akan melirik emas sebagai objeknya. Apalagi perawatan emas cukup mudah dan bisa digunakan juga sebagai perhiasan.

Saya tertarik untuk berinvestasi emas sudah sejak beberapa tahun yang lalu, tapi hanya yang emas batangan saja. Entah kenapa saya gak tertarik dengan perhiasan emas. Selain gak bisa milih, perhiasan emas juga kurang bagus kalo dibuat untuk investasi. Masalahnya, harga emas batangan sangat mahal jadinya keinginan untuk membeli emas batangan jadi tertunda.. sampai kemarin.

Jadi hari Senin kemarin, tgl 16 Januari 2012 saya baru saja membeli 10gram emas di Pegadaian Syariah secara kredit selama 6 bulan. Kredit? enak banget!

Seminggu sebelumnya, saya baru tau kalo kita bisa membeli emas di kantor Pegadaian Syariah atau di Bank Syariah. Saya milih di Pegadaian Syariah aja, karena lebih deket dengan kantor dan menawarkan biaya yang lebih ringan perbulannya.

Nama layanannya adalah MULIA (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi). Saat ini sudah tersedia di semua Pegadaian Syariah. Saya kurang tau apakah Pegadaian konvensional juga menyediakan layanan ini, saran saya sih cari aja yang Syariah, karena memang ini merupakan produknya dia.

Layanan MULIA memfasilitasi masyarakat yang ingin memiliki emas secara kredit. Jangka waktu yang ditawarkan cukup bervariasi. Dari 6 bulan hingga 3 tahun, saya sendiri memilih yang 6 bulan, lagian masnya di Pegadaian bilang untuk emas Antam 10gram, maksimal hanya 6 bulan saja. Untuk ukuran emas yang bisa dicicil juga bervariasi, dimulai dari 5 gram hingga 1000 gram (1kg). Selain itu, syaratnya cukup simpel, cuma butuh fotokopi KTP yang masih berlaku.

Gimana Detilnya?

Perincian pembelian saya per tgl 16 Januari 2012 kemaren adalah :

Harga 10gram emas Antam = Rp. 5.115.000
Biaya dan keuntungan Pegadaian = Rp. 306.900
Jadi harga yang saya terima adalah = Rp. 5.421.900

Nah, Pegadaian Syariah menetapkan kita harus membayar DP sebagai Akad Kredit sebesar 30% dari harga, jadi kemaren saya membayar Rp. 1.694.000

Kemudian untuk cicilan per bulan adalah Rp. 632.500 selama 6 bulan. Nah uniknya, Pegadaian Syariah membebaskan membayar cicilan tanggal berapapun selama belum berganti bulan. Jadi misalnya saya membayar tgl 28 Februari 2012 pun gak papa, asal belum berubah jadi bulan Maret.

Gimana? simpel khan? Jadi saya tinggal menyisihkan 600ribuan perbulan untuk menyicil emas. Sebuah investasi yang menurut saya lebih menguntungkan daripada untuk belanja barang elektronik yang nilainya semakin turun.

Kalo pengen tau detil simulasinya, bisa kontak saya via YM. Nanti tak bantu hitungkan buat persiapan sebelum jalan ke Pegadaian Syariah.

Jadikan UMKM dan Pajak Selayaknya Sahabat Sejati

Indonesia adalah negara yang besar. Besar dalam hal yang sesungguhnya, dengan luas wilayah hampir 2 juta kilometer persegi, terbagi menjadi 33 provinsi dan terdiri dari 399 kabupaten dan 98 kota besar. Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya dan sumberdaya alam, seharusnya Indonesia sudah menjadi negara yang kaya dan berpengaruh di level dunia.

Apakah kita negara yang ketinggalan? Tidak juga. Banyak sekali teknologi dan prestasi yang ditorehkan oleh Indonesia di kancah Internasional. Namun jika menilik lagi ke kondisi warga negaranya, seharusnya kita ikut prihatin, dimana masih cukup banyak penduduk yang berusia produktif tapi menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap.

Negara kita kaya, itu adalah kata-kata yang selalu dikatakan oleh guru SD sewaktu masih kecil. Mungkin juga ini yang membuat kita terlena, ha wong negara kita kaya kok, jadinya bersikap santai saja lah. Tanah kita yang subur juga menjadikan teknologi pertanian mandeg, tidak ada inovasi. Petani juga masih miskin. Perairan yang kaya dengan ikan tidak membuat nelayan menjadi orang yang makmur.

Ada yang salah di negeri ini.

Seandainya saya anggota DPD RI, hal yang akan saya soroti adalah masalah Pajak dan UMKM. Ini sesuai dengan tugas saya di Komite IV DPD RI, yang salah satunya mengurusi mengenai Pajak dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)

Sudah tidak jamannya lagi menunggu lowongan pekerjaan, apalagi dengan kondisi perekonomian daerah yang tidak merata. Tidak jamannya lagi menuntut UMR, kenapa kita tidak menggaji diri sendiri dengan nominal yang kita tentukan sendiri?

Caranya gimana dong? Bikin usaha. Usaha apa? Sesuaikan dengan minat Anda, apa keahlian Anda. Gimana modalnya? Nah, ini tugas saya sebagai anggota DPD RI, kami akan mengusulan bantuan modal kepada masyarakat yang ingin membuat usaha, kemudian melakukan pendampingan, lalu membantu promosi sehingga usaha yang dijalankan bisa berkembang dan bisa dikenal ke daerah sendiri atau daerah lain.

Bukalah mata lebar-lebar, carilah peluang di sekitar. Pasti nanti akan menemukan kebutuhan yang dicari oleh warga sekitar, jadikan itu usaha. Niatkan dengan tulus kemudian “go action!”, negara akan backup usaha Anda dari belakang.

Bagaimana dengan pendapatan daerah?

Tentunya ini membutuhkan peran serta masyarakat. Sumber dana yang bisa didapatkan oleh daerah hanyalah dari sektor Pajak. Seandainya semua masyarakat bisa bekerja baik di sektor swasta ataupun bisnis, apalagi semuanya dipermudah oleh negara. Saya rasa masyarakat akan dengan senang hati menyetorkan pajak kepada Pemerintah.

Yang terjadi sekarang memang tidak berjalan dengan semestinya, sektor pajak masih belum dapat diandalkan. Korupsi masih merajalela. Ini juga karena Pemerintah kurang memberikan imbal-balik kepada masyarakat supaya mau membayar pajak kepada Pemerintah.

Itu semua butuh proses, dan keyakinan bahwa semuanya bisa berakhir dan diatasi. Tidak cuma ngasih komentar nyinyir trus tidak ikut melakukan apa-apa.

Seadainya UMKM dan Pajak bersanding selayaknya sahabat sejati, saya yakin bahwa Indonesia akan makmur, baik dari sisi masyarakat juga dari sisi negara.

nb: Postingan ini ditulis untuk mengikuti Lomba “Andai Saya Seorang Anggota DPD RI”. Saya bukan anggota DPD lhoo.. cuma blogger yang nyambi jadi dosen :D

Buka Lapak Rapidleech

Hhehehe.. Tadinya sih niatnya bukan untuk bisnis murni, biasanya sih cuma bantuin temen buat download dari server files berbayar. Nah, kenapa sekarang jualan? ya supaya bisa download secara bebas tanpa harus nungguin saya aja hehehe.. Lagian saya jualnya murah, jadinya gak rugi deh..

Servernya berada di Perancis, tapi gak mempengaruhi performa kok. Bahkan menurut saya lebih kenceng ketika leeching, jadinya bisa segera di download ke komputer.

Tertarik? Baca lebih lengkap di Jualan Rapidleech yaa…

Jadwal Macam Apa Ini..

Sebetulnya sih ini postingan dalam rangka mengisi blog yang udah lama gak diisi. Kayanya udah berbulan-bulan deh cuma ngasih amal jariyah ke Rumahweb, soalnya blog ini cuma buat dipajang doang tanpa diisi postingan.

Hmm.. mau ngomongin jadwal ngajar ah.. Jadi di semester ini, aku dapet jadwal yang luar biasa padet. Totalnya ada 27 kelas per minggu. Banyak ya? Hahahaha… Bayangin aja jumlah sks-nya, jam ngajarnya pun akhirnya juga gila-gilaan. Praktis dalam seminggu ngajarnya dari Senin – Minggu. Trus rata-rata dari jam 8 pagi sampai 9 malem. Setiap Hari.

Capek? pasti lah.. Hei.. tapi khan ini udah pilihan… Dulu pernah bilang kalo mau pindah haluan jadi pengajar, bekerja di sektor pendidikan. Sekarang udah jadi kenyataan jadi nggak boleh ngeluh.. Tapi kalo curhat dan galau khan masih boleh tho?

Sementara ini tak jalani selama 3 tahun dulu di sini, siapa tau nanti ada tawaran yang lebih baik lagi. Hati kecil sih pengen balik lagi ke ranah profesional, menangani project lagi, dan tentunya jumlah saldo bank yang berderet-deret hahaha…