Shopping is Fun

For some people, shopping is fun. Imagine you are inside a large shopping mall, which contains various goods from various brand, the fun is not it? Hence I call it fun shopping. 

What if you do not have enough time to come to the mall? Do not worry, have many online stores that provide goods from various brand that is quite complete, you can even save your money for expenses that do not need, such as parking and time. 

One online store that is famous Shop.Com. You can try this store convenience and taste. Shop.Com seek comfort, security, and completeness of the goods. You can select the items you delight even without leaving your desk! Simply select the item, a message, pay, and Shop.Com will manage the rest. 

Is it only the Shop.Com can offer? Of course not .. You can get discount coupons for certain goods. Then you can also get the free shipping service that can save your spending. And the most fun, you can follow the contest, which has a flat screen TV, Ipod Touch, GPS, and many more. 

Essentially, Shop.Com is a fun place to shop!

UGM Mandiri Jazz 2008

Yak.. ini postingan yang nge-lag sampe 4 hari. Hihihihi…

Jadi ceritanya, di hari Sabtu (18 Okt 2008) yang lalu, aku sama Niea jalan-jalan ke Jogja. Tujuannya cuma untuk nongton konser Jazz yang diadain oleh UGM. UGM Mandiri Jazz 2008, yup itu namanya, pagelaran ini konon katanya udah berlangsung 10 kali lhoo..

Tapi sayangnya… aku ngerasa panitia penyelenggara ini kok kerjanya kurang maksimal. Tidak ada tuh kesan bahwa pagelaran hebat ini sudah dilakukan selama 10 kali. Ya gimana enggak, ada beberapa hal yang sebenarnya sepele tapi cukup mengganggu kenyamanan penonton. Dimulai dari pengaturan parkir. Yap ini bikin aku jengkel setengah mati. Aku nyampe di Graha Sabha Pramana UGM sekitar jam 7 malem, dan disana antrian parkir motor udah menyemut.

Pikirku.. oke lah.. ini pagelaran gede.. jadi wajar aja yang nonton banyak, aku juga pernah ngalami antrian motor kayak gini pas masuk di PRPP Semarang. Tunggu-ditunggu.. kok lama banget ya antrinya? Ternyata sodara-sodara.. model parkir motornya wagu dan katrok! Masa motor dinaikin ke lapangan GSP tanpa ada bantuan penyangga untuk naik ke lapangan itu. Meskipun tinggi trotoar nggak seberapa, tapi khan ini kondisinya rame.. trus harus satu persatu.

Mending kalo petugas keamanan kampus berseragam biru-biru mau bantuin ngatur antrian. Yang ada malah nambahin antrian jadi ruwet, karena motor-motor yang dibelakang malah disuruh maju dan akhirnya terjadi bottleneck di gerbang parkir.

Jangan bayangkan kalo gerbang parkir itu kayak di PRPP Semarang, enggak! hanya pintu parkir biasa kayak di Malioboro gitu… Huh.. Akhirnya aku sukses antri selama 45 menit, kringetan, dan telat!! Bete! Kayak gini kok ngakunya udah 10 kali pagelaran…

Terlepas dari masalah perparkiran itu.. Acara ini cukup menarik kok.. Karena telat di tempat parkir, aku cuma sempet ngeliat aksi Trisum separo aja dan nggak sempet ngikutin pembukaan oleh MC om Butet Kertaradjasa dan mbak Dian Sastrowardoyo.

Aksi Dewa Budjana, Tohpati, dan Donny Suhendra sangat memukau, apalagi ditambah dukungan dari Bassist, Suling, dan Drummer handal bikin tambah semarak. Trus pas Rio Febrian ikutan nyanyi, bikin cewek-cewek pada jerit-jerit histeris. Hihihihi….

Oh iya, kemaren kita nontonnya di baris VIP 1 (tiket 150rb), jadinya bisa ngeliat jelas aksi para performer dan tentunya mbak Dian Sastrowardoyo yang keliatan cantik malem itu. Eh sayangnya, Dian Sastro kemaren serasa kurang mempersiapkan diri jadi MC. Soalnya guyonannya kok garing ya? Apa kecapekan?

Session kedua diisi oleh Indra Rasjidi Idang Rasjidi and Friends yang menampilkan musik Jazz yang full teknik, terutama pemain perkusinya yang gondrong itu. Awalnya susah buat nikmati ini, tapi lama kelamaan asik juga. Trus pas Rika Roeslan Rieka Roeslan masuk membuat acara semakin hidup.

Akhirnya.. yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penonton cewek disitu adalah… Glenn Fredly!! Yup.. Keren banget aksinya.. Apalagi pas dia nyanyiin lagu Yogyakarta-nya KLA yang dia aransemen lagi, keren abis! Nggak rugi deh ngeluarin duit sebanyak itu, karena udah disuguhi aksi panggung yang luar biasa. Sound system dahsyat dan lighting yang oke semakin menunjang pagelaran ini. Rasa sebel di tempat parkir tiba-tiba udah lupa entah kemana hahahahha…

Yak.. segitu dulu ah… Untuk foto-foto yang lain bisa diakses di Picasa-ku.

UGM Mandiri Jazz 2008

Say No To Love

Say No To Love

Puasa-puasa gini lagi rada males bikin artikel komputer nih.. Yang ada malah jalan-jalan, nonton pilem, sama baca-baca buku. Naaahh.. kebetulan pas acara buka bersama Loenpia.Net, mas Wiwien Wintarto membagi-bagikan 2 bukunya yang baru aja launching. Judulnya “Say NO To Love“, dan alhamdulillah Nyak-Kuh bisa dapetin buku itu beserta tanda tangan penulisnya. Dan sekarang bukunya malah aku duluan yang baca.

Ceritanya bagus.. bagus banget malah! Mungkin karena yang nulis itu seleranya sama kayak aku ya? Nggak suka dengan cerita-cerita atau skenario film Indonesia yang maksa banget. Jadinya cerita yang ada di novel itu sungguh berbeda dengan yang biasa aku baca. (Atau aku yang kuper?)

Siapa sih yang nggak mau jadi orang kaya? Dan siapa sih yang nggak mau jadi pasangan orang kaya? Yak, salah satu point yang dibidik oleh mas Wiwien dalam merangkai cerita hingga menghasikan dialog, obrolan, dan cerita yang menarik dan terkemas secara apik dalam 1 novel.

Ini resensi yang aku kutip dari salah satu blog-nya mas Wiwien :

Novel ini berkisah soal pasangan bos dan sekretaris bernama Wisnu dan Dewi. Wisnu adalah Presiden Direktur Helman Communications, sebuah perusahaan telekomunikasi dan hiburan multinasional. Ia juga merupakan putra sulung Rijanto Helman, CEO Helman Corporation, induk perusahaan Helman Comm. Hidup Wisnu berubah saat ia menerima Dewi yang rookie dan masih hijau sebagai sekretarisnya.

Iseng, ia memelonco Dewi pada hari pertama gadis itu masuk kerja. Tak disangka, Dewi marah dan mengamuk sejadinya gara-gara peloncoan itu. Wisnu yang merasa bersalah pun lantas minta maaf dengan cara yang sangat spektakuler. Dan awalan yang agak aneh itu lantas membawa hubungan mereka ke titik yang juga tak terduga-duga.

Lebih dari sekadar bos dan sekretaris, keduanya segera saja menjadi akrab dan dekat mirip sepasang sobat pada masa sekolah atau kuliah. Tak hanya itu, pembawaan Dewi yang ceria dan berbagai keahlian serta minatnya membawanya diterima dengan cepat oleh keluarga Helman.
Maka, berbagai rumor, gosip, selentingan, dugaan, dan tuduhan soal kedekatan mereka pun merebak. Hampir semua orang sepakat bahwa mereka harus jadian, karena keakraban mereka membuktikan bahwa keduanya memang sama-sama pas satu sama lain.

Lucunya, Wisnu dan Dewi sendiri justru cuek bebek dan menganggap semuanya angin lalu. Mereka sama-sama nggak menemukan chemistry dan special feeling yang membuat keduanya harus bergerak lebih dalam daripada sekadar pertemanan biasa.

Namun ketika kisah cinta masing-masing akhirnya kandas—dan sama-sama kena batunya oleh cinta—, mereka pun dihadapkan pada satu kenyataan yang amat sukar ditelaah. Jika memang sudah sama-sama cocok dan perfect for each other, masih perlukah cinta menjadi bumbu dan alasan untuk bersatu?

Hmmmm….. awalnya aku udah ga begitu tertarik dengan jalan ceritanya, tapi begitu mulai baca dari halaman pertama hingga halaman selanjutnya, kok rasanya nggak mau berhenti. Dan ketika sadar bahwa ceritanya udah hampir tamat, rasanya kok cuma segini aja… kurang banyak nih ceritanya.. padahal tu novel tebelnya 300 halaman lebih..

Jadi intinya, novel ini recomended deh buat yang mulai bosen dengan cerita-cerita pilem Indonesia. Dan ini novel kedua yang langsung aku baca lagi dari awal begitu selesai baca. Nilai 9 untuk novel ini.

nb: Novel pertama yang aku maksud judulnya 5 cm

Buku Jasakom Membajak Harry Potter??

Perhatikan kedua gambar diatas…

Yang kiri itu gambar karakter Lord Voldemort yang merupakan salah satu tokoh di novel Harry Potter. Sedangkan satunya lagi adalah sampul buku yang diterbitkan oleh Jasakom yang berjudul “Kitab Suci Programmer Visual Basic 2005″.

Kalo diliat, gambarnya sama bukan? Nah.. inilah yang sedang menjadi topik hangat di milis Detikinet. Apakah ini termasuk kategori pembajakan? atau karena suka dengan karakter novel, maka boleh memasukkan karakter itu kedalam suatu objek yang dijual? (dapet duit pula).

Ntah lah sodara-sodara.. Mari kita tunggu saja hasilnya…

Kebijakan UN VS Kelulusan

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang tragedi UN. Sampai sekarang ternyata perkembangannya makin memprihatinkan. Tadinya aku kira yang gagal menempuh UN cuma dikit dan anak itu benar-benar layak untuk tidak lulus. Ternyata tidak! Ternyata masih banyak lagi anak yang nggak lulus UN, dan lebih menyakitkan lagi, mereka itu orang pintar!Pintar dalam arti yang sesungguhnya. Seperti Siti Hapsa yang gagal masuk IPB gara-gara nilai Matematikanya tidak bisa memenuhi target. Lalu ada Bayu yang sudah ketrima di Universitas Brawijaya melalui jalur PMDK, tapi pupus gara-gara nilai matematika juga tidak bisa melampaui target negara. Lalu ada juga yang merupakan juara Olimpiade Fisika di Unnes dan sudah pasti mendapatkan kursi di  Fakutas MIPA Unnes Semarang tapi batal gara-gara nilai Matematika tidak bisa mencapai batas nilai Negara.

Nilai Negara? iya, aku nggak salah tulis. Aku bilang gitu karena patokan itu yang bikin adalah negara yang diwakili oleh Diknas. Nah, khan aneh, secara yang mengajar siswa adalah sekolah yang diwakili oleh guru, tapi kenapa batas kelulusan yang menentukan adalah negara? Dimana dalam penentuan itu tidak mewakili suara guru. Dan pemerintah memukul rata batas kelulusan untuk semua sekolah, baik sekaolah swasta dan negeri, dan sekolah di kota dan di pelosok pedalaman hutan. Semua sama.

Lalu bagaimana dengan siswa yang tidak lolos UN? Pemerintah menawarkan 2 opsi. Yaitu siswa diharuskan mengulang pelajaran selama setahun atau ikut Kejar Paket C. Wah kasian banget. Dimana para siswa diujikan hanya dengan 3 mata pelajaran, tetapi mereka juga harus mengulang semua mata pelajaran SMU/SMK/MA kelas 3. Dan kenapa yang diajarkan tu banyak banget? kenapa nggak hanya 3 mata pelajaran itu aja? Apa mau mencetak siswa yang pandai menghapal, tapi tidak menguasai pelajaran? Apa pintar itu dinilai dari mampu atau tidaknya siswa menjawab soal? bukan dari implementasi ilmunya ke kehidupan sehari-hari? Generasi muda kita dalam masalah besar, karena sampai kapanpun generasi kita hanya akan dapat memakai, meniru, dan menurut orang, tutorial, contoh, buku. Tanpa pernah bisa untuk mengembangkan dan mengimplementasikan “ilmu” yang mereka dapat di sekolah. Kalo sudah gitu buat apa sekolah?

Bahkan ada yang saking sebelnya hingga bilang bahwa Depdiknas adalah Pembunuh. Trus di Semarang juga ada rumor konversi nilai. Wah, kalo sudah gini apakah pendidikan di Indonesia bisa maju? tanyakan kepada diri sendiri. jangan ikut-ikutan menyalahkan orang lain. Salahkan diri sendiri karena hidup pada waktu yang tidak tepat.